Langsung ke konten utama

NEW ANNOUNCEMENT!!!

Pengumuman Timspce

SURAT KEPUTUSAN TIMSPCE (CENTER AND SPECIAL TEAM)

TIM KHUSUS PENCATATAN KEPUTUSAN, KEBIJAKAN, INVESTIGASI, DAN RESTRUKTURISASI

MENGENAI PENUNJUKAN PENGGANTI SEMENTARA BAGI POSISI SEKRETARIAT JENDERAL UNTUK BACH SCIENCE CORPORATION

Berdasarkan Hasil dan Maklumat Rapat Umum Asosiasi Kantor Bach Science Corporation bersama Asosiasi Tim Bach Science Corporation dengan Kantor Eksekutif Bach Science Corporation pada 20 Juni 2023, kami memutuskan bahwa:

Nama Posisi Posisi Pengganti Sementara Keterangan Wilayah Kerja
Sekretaris Jenderal Sekretaris untuk Departemen Penerimaan Plt. Sekjen Kantor Sekretariat Umum dan Kepaniteraan

Selanjutnya, kepada seluruh pihak yang ditunjuk sebagai posisi pengganti sementara dapat segera bertugas pada posisi yang telah ditetapkan ini dan petunjuk pelaksanaan teknis akan diberitahukan pada lampiran surat ini.

Ditetapkan oleh,

Kepala untuk Tim Khusus Pencatatan Keputusan, Kebijakan, Investigasi, Dan Restrukturisasi

SC 002 : LAP MJ CITRUS ( RESEARCH SIMPLE )

A.  

  PEMILIHAN JENIS JERUK

Jeruk yang  pilih dalam percobaan ini adalah Jeruk Manis.Jeruk Manis (Lat.; Citrus x sinensis) merupakan jenis jeruk yang diduga berasal dari daerah antara Assam, India, Tiongkok selatan atau Asia Tenggara.[1] Pohon jeruk ini memiliki daun berinip, berbau harum, pada ketiak daun terdapat duri dengan bunga putih kekuning-kuningan dan buah bulat, pada ujungnya terdapat lekukan-lekukan, rasanya manis, kulit buahnya sukar dikupas.

Jenis Jeruk ini mudah temui di daerah khususnya kota Pangkalpinang,dikarenakan banyak dan mudah kita jumpai pedagagng buah buahan yang terletak disepanjang emperan jalanan pasti ada yang berjulan buah buahan segar termasuk jeruk manis sendiri.Buah ini juga merupakan salah satu komoditas pertanian baik secara nasional maupun daerah provinsi Bangka Belitung.Selain baunya harum jeruk manis juga memiliki warna yang cukup menarik dan meyakinkan untuk dibuat sebagai minyak dalam percobaan ini.

B.     KANDUNGAN KULIT JERUK MANIS

Berbagai jenis kandungan dalam jeruk manis ialahvitamin C, minyak atsiri,pektin,limonene, lonalol, linalil,  terpinol, sitronela serta zat antioksidan. Kandungan isinya adalah Lemonen lebih dari 90%, terdapat pula 5% campuran sitral, sitronel dan metil ester dari asam antranilat. Kegunaannya untuk bahan pewangi dan obat bronchitis menahun, kadar aldehida (jumlah dihitung sebagai dekanol) tidak kurang dari 1% dan tidak lebih dari 3%. Kandungan minyak atsirinya (tidak kurang dari 1% v/b) yang 90 terdiri dari limonen. Terdapat pula glikosida-glikosida, hesperridina, isohesperidina, dan aurantiamarina, serta damar (Sarwono, 1995).

 

 

1.      Vitamin C

Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular. Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam.Meskipun jeruk dikenal sebagai buah penghasil vitamin C terbanyak, sebenarnya salah besar, karena lemon memiliki kandungan vitamin C lebih banyak 47% daripada jeruk.

Vitamin C diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, yaitu sejenis protein yang menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan patah tulang, memar, pendarahan kecil, dan luka ringan.

 

Struktur kimia Vitamin C

 

 

 

2.      Minyak Atsiri

Minyak ini berupa cairan yang berwarna kuning muda atau coklat kekuningan, baunya khas aromatis. Minyak atsiri adalah substansi yang  menyebabkan / menimbulkan bau dari macam-macam bagian tanaman. Dinamakan  minyak atsiri oleh karena substansi ini kalau dibiarkan di udara akan atsiri pada temperatur biasa, maka ini dinamakan “ volatile oils ” atau “ aethereal oils ”. Istilah terakhir ini digunakan karena minyak atsiri merupakan “ essences ” atau isi aktif dari tanaman.

Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak sensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan  aroma yang khas.  Minyak atsiri mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi syaraf manusia (terutama dihidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu.

Adapun sifat-sifat minyak atsiri :

1. Tersusun oleh bermacam-macam komponen kimia

2. Memiliki bau khas

3. Bersifat tidak bisa disabunkan dengan alkali dan tidak bisa berubah menjadi tengik (rancid) meninggalakan bekas noda pada benda yang ditempel.

4. Bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik pengaruh oksigen udara, sinar matahari, dan panas karena terdiri dari berbagai macam komponen penyusun.

5. Indeks bias umunya tinggi

6. Pada umumya tidak dapat bercampur dengan air, tetapi cukup dapat larut sehingga dapat memberikan baunya kepada air walaupun kelarutannya sangat kecil.

7. Sangat mudah larut dalam pelarut organik.

 

 

Lokasi minyak atsiri dalam tanaman tergantung  pada suku tanaman tersebut, seperti di dalam rambut kelenjar (pada family Labitae), didalam sel-sel parenkim (misalnya family  Piperaceae), didalam saluran minyak yang disebut Vittae (family Umbbbellifearae), didalam rongga-rongga skizogen dan lizigen (pada family Pinaceae dan Rutaceae), terkandung dalam semua jaringan (pada family Coniferae), pada bunga mawar kandungan minyak atsiri terpusat pada mahkota bunga , pada kayu manis ditemui pada kulit batang (korteks), pada family Umbellifera terbanyak terdapat dalam perikarp buah, pada menthae sp. terdapat rambut kelenjar batang serta pada jeruk terdapat dalam kulit buah dan helai daun (Rahim dkk, 2007).

 

Minyak atsiri buah sitrus terdapat dalam  kantung-kantung minyak berbentuk oval, balon, dalam  kelenjar atau gelembung dengan ukuran diameter bervariasi dari 0,4-0,6 mm. Kantung minyak tersebut tidak memiliki saluran dan tidak berhubungan dengan sel sekitarnya atau dengan dinding luar sel, tidak memiliki dinding tetapi dibatasi oleh runtuhan jaringan yang terdegrasi. Kantung atau kelenjar minyak ini terdistribusi secara tidak teratur pada bagian luar kulit buah yang telah masak serta berwarna (flavedo , dan terutama terletak dibagian luar epikarp dan hipoderm, dan diatas mesokarp bagian dalam, yaitu dibagian kulit yang sedikit berwarna (albedo). Albedo ini terdiri dari selulosa, hemiselulosa, lignin, pektin, pentosan, gula, glikosida, zat yang mempunyai rasa pahit, dan mineral. Jeruk manis, lemon dan tangerin mengandung senyawa glikosida yang disebut hesperidin; sedangkan jenis glikosida dalam grapefruit disebut nariginin.Pada proses pematangan buah, sel-sel albedo tersebut berubah menjadi lebih panjang dan bercabang, serta membentuk jaringan sel yang rumit, ruang antar sel cukup besar, sehingga kulit buah yang matang memiliki tekstur seperti karet busa (spongi).

Lapisan spongi ini memengang peranan penting dalam pengepresan minyak yang keluar dari kantung minyak, sehingga menimbulkan berbagai kesulitan dalam pengepresan.

Minyak atsiri atau minyak esensial adalah jenis minyak berasal dari bahan nabati yang mudah menguap tanpa mengalami penguraian dan memiliki bau khas. Minyak atsiri tidak berwarna, tetapi dapat berubah menjadi gelap karena proses oksidasi dan pendamaran. Kemampuan daya tahan minyak atsiri cukup lama namun akan teroksidasi menjadi resin apabila terpapar cahaya dan udara. Minyak atsiri dapat disuling dari sumber alami tumbuhan karena tidak disusun oleh ester gliserol asam lemak (Astuthi dkk., 2012).

Minyak atsiri hampir ditemukan di seluruh bagian tumbuhan.Minyak ini dibentuk di Oil cells. Ada 2 tipe Oil cells yaitu Superficial cells dan Cells embedded in plant tissue. Lokasi Superficial cells dilapisan permukaan misalnya kelenjar rambut, sedangkan Cells embedded in plant tissue terletak di Intercellular space (Buchbauer, 2010). 

Aroma tumbuhan bergantung pada komposisi dan susunan senyawa kimia minyak atsiri. Minyak atsiri terdiri dari campuran senyawa kimia yang rumit. Hampir tiap jenis senyawa organik dapat ditemukan di dalamnya (hydrocarbon, alkohol, keton, aldehid, eter, esterdan lainnya). Hanya sedikit yang mempunyai komponen tunggal (Buchbauer, 2010).

Minyak atsiri terdiri dari campuran unsur Karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Kandungan kimia minyak atsiri terbagi dalam dua golongan besar yaitu: 

a) Terpenoidhydrocarbon, terbentuk dari unsur Karbon (C) dan Hidrogen (H) melalui biosintesis asetat mevalonat.

b) Senyawa aromatis, terdiri dari unsur Karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O) melalui biosintesis sikimat fenil propanoat. Contoh senyawa ini adalah alcohol, keton, ester, eter, dan fenol (Ketaren, 2005). 

Bahan utama minyak atsiri adalah terpenoid yang terdapat pada fraksi atsiri tersuling uap. Zat ini menyebabkan bau khas tumbuhan (Ketaren, 2005).

Senyawa terpenoid memiliki aktifitas repellent ampuh dengan penggunaan monoterpen, yaitu alpha pinen, cineol, eugenol, limonene, terpinolen, citronellol, citronellal, champor, dan timol (Nerio and Stashenko, 2010). Minyak atsiri yang diisolasi dari tumbuhan dijadikan sebagai repellent bagi jenis arthropoda haematophagous (Ramirez, 2012).

Senyawa-senyawa kimia minyak atsiri tumbuhan terbukti mempengaruhi aktivitas lokomotor. Komponen aroma minyak atsiri berinteraksi cepat dengan sistem syaraf pusat dan langsung merangsang pada sistem olfactory, kemudian akan menstimulasi syaraf-syaraf otak dibawah keseimbangan korteks serebral (Buchbauer, 2010).

Aktivitas lokomotor merupakan aktivitas gerak sebagai akibat adanya perubahan aktivitas listrik yang disebabkan oleh perubahan permeabilitas membran pascasinaptik dan pelepasan transmitter oleh neutron prasinaptik pada sistem syaraf pusat (Goodman and Gilman, 2006).

 

 

3.      PEKTIN

Menurut Rouse (1977, dalam Fitriana 2003), pektin merupakan senyawa polisakarida kompleks yang komposisinya bergantung dari sumber dan kondisi yang dipakai dalam cara isolasinya. Komponen utama dari senyawa pektin adalah asam D-galakturonat tetapi terdapat D-galaktosa, L-arabinosa dan L-rhamnosa dalam jumlah bervariasi dan kadang-kadang terdapat gula-gula lain dalam jumlah kecil. Pektin merupakan senyawa-senyawa unit asam anhidrogalakturonat yang dihubungkan dengan ikatan α-1,4 glikosidik. Beberapa gugus karboksilnya dapat teresterifikasikan dengan methanol, beberapa ternetralisasi oleh kation dan lainnya berupaasam-asambebas.Polimer asam anhidrogalakturonat tersebut merupakan rantai lurus atau tidak bercabang. Komponen utama dan rantai utama pektin.

 

Pektin adalah suatu senyawa heteropolisakarida yang secara umum

terdapat pada dinding sel primer tanaman, khususnya pada sel-sela selulosa dan hemilulosa. Senyawa pektin tersebut dapat berfungsi sebagai perekat antara dinding sel yang satu dengan yang lainnya. Bagian antara dua dinding yang berdekatan tersebut dinamakan lamella tengah (Winarno,1997). senyawa pectin pada dinding sel tanaman (gambar 4)  (IPPA, 2002 dalam Nur Harianti 2006).

Pektin merupakan bahan aditif yang memiliki aplikasi luas pada industri makanan karena kemampuannya membentuk gel seperti untuk membuat jelly, selai, desert dan sebagai penghalus tekstur. Selain itu, pektin juga dapat digunakan dalam bidang bakery fillings, yaitu pada penyiapan buah. Dalam bidang produksi susu, digunakan pada pengasaman susu dan minuman berprotein serta yogurt. Pektin dapat juga digunakan dalam bidang produk kesehatan dan  farmasi.

Pektin banyak diolah untuk berbagai macam industri makanan, farmasi dan obat- obatan. Di Indonesia, belum ada pabrik yang dapat mengolah pektin. Oleh karena itu Indonesia masih mengimpor pektin dari luar negeri. Sedangkan kebutuhan pektin di Indonesia semakin meningkat. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya nilai impor pektin. Kebutuhan pektin mengalami kenaikan sebesar 10-15% tiap tahun.  Pektin bisa didapatkan dari berbagai macam kulit jeruk. Pektin bisa didapatkan dengan cara ekstraksi.

Pektin berasal dari bahasa Yunani “pektos” yang berarti kental dan keras. Hal ini mencerminkan kemampuan pektin untuk membentuk gel, yang telah diketahui berabadabad lalu. Senyawa pektin merupakan polimer dari asam galakturonat, turunan galaktosa yang dihubungkan dengan ikatan α-1,4-glukosida. Pektin ditemukan dalam buah dan sayur baik dari daging buah ataupun dari kulit buah. Buahbuahan yang dapat digunakan sebagai sumber pektin antara lain: apel, jeruk, pisang dan wortel.  Pada umumnya, pektin tidak memiliki struktur yang tepat.

      Pektin merupakan koloid yang reversible, yaitu dapat dilarutkan dalam air, diendapkan, dikeringkan, dan dapat dilarutkan kembali tanpa merubah sifat fisiknya. Bila ditambahkan air mula–mula akan terbentuk gumpalan seperti pasta dan kemudian akan larut. Di dalam air, pektin dapat membentuk larutan kental pada kondisi.ditunjukkan terdapatnya molekul-molekul gula netral(rhamnose, galaktosa, arabinose dan sedikit gula lain), susunan dari homogalacturonic acid (“smooth regions”) dan pada strukur cabang yang besar biasanya disebut “hairy regions”. Dgalacturonic acid residues banyak berbentuk molekul, di dalam blok dari “smooth regions” dan “hairy regions”. Ketika pektin diekstraksi, hairy regions akan hancur dan yang tersisa adalah gugus galacturonic acid dan beberapa unit gula netral.

Pektin tersusun atas protopektin, asam pektinat dan asam pektat.  Protopektin merupakan senyawasenyawa pektin yang terdapat pada tanaman yang masih muda atau pada buah–buahan yang belum matang. Protopektin tidak larut dalam air. Namun, jika dipanaskan dalam air yang mengandung asam, maka protopektin dapat diubah menjadi pektin dan terdispersi dalam air. Protopektin akan menjadi pektin yang larut dengan adanya hidrolisis asam, secara enzimatis dan secara fisis oleh pemanasan. Hasil dari hidrolisis adalah asam pektinat.

Asam pektinat adalah asam poligalakturonat yang mengandung gugus metil ester. Pektinat yang mengandung metil ester yang cukup yaitu lebih dari 50% dari seluruh karboksil disebut pektin. Pektin ini terdispersi dalam air dan dapat membentuk garam yang disebut garam pektinat. Dalam bentuk garam ini, pektin berfungsi dalam pembuatan jelly dengan keberadaan gula dan asam.  Asam pektat merupakan senyawa pektin dengan gugus karboksil yang tidak teresterifikasi pada asam galakturonat. Asam pektat bersifat tidak larut dalam air dan tidak membentuk gel. Namun, jika membentuk garam, asam pektat disebut pektat dan dapat larut dalam air. Sifat paling penting dari pektin adalah membentuk jelly apabila dicampur dengan air dan gula dan dipanaskan dalam keadaan asam. Viskositas pektin tergantung pada  berat molekul  pektin,  pH,  derajat  esterifikasi, yang normalnya sekitar 70%.

      Penambahan gula juga akan mempengaruhi kesetimbangan pektin dan air serta kemantapan molekul-molekul pektin sehingga pektin akan menggumpal dan membentuk serabut-serabut halus. Serabut serabut halus tersebut yang selanjutnya dapat menahan cairan. Besarnya kadar pektin menentukan kepadatan struktur tersebut. Semakin tinggi kadar pektin, semakin padat struktur tersebut. Kepadatan dari serabut-serabut dalam struktur jelly dikendalikan oleh keasaman. Kondisi sangat asam akan menghasilkan struktur jelly yang padat atau bahkan merusak struktur karena adanya hidrolisis pektin. Kualitas pektin dikatakan tinggi jika mampu membentuk gel yang kuat, yang didapat dengan semakin tinggi kadar metoksil dan semakin panjangnya rantai galakturonat.

 

Struktur kimia pectin

4.      LIMONEN

Kandungan dalam kulit jeruk  lainnya adalah senyawa limonen. sebenarnya merupakan turunan dari minyak atsiri. Limonen ternyata bisa menjadi bahan untuk membuat material kemasan yang ramah lingkungan biodegradable/ untuk menggantikan styrofoam. !aat ini inovasi yang dikembangkan para peneliti adalah memanaatkan limbah kulit jeruk  yang kurang didayagunakan yang biasanya hanya dibuat untuk mainan anak, manisan, atau langsung dibuang sehingga kurang bermanaat dan kurang mempunyai nilai jual. Kulit jeruk yang mengandung limonene akan diolah menjadi polimer plastik organik sebagai bahan dasar kemasan produk yang aman dan mudah terurai.

 

Limonen adalah hidrokarbon dan diklasifikasikan dalam terpene siklik. Limonen bisa diperoleh dari kulit jeruk. Limonen, seperti monoterpene lain, dapat diperoleh dari pohon tertentu. Limonen dapat didapatkan dari kulit buah jeruk, jintan, adas, dan seledri. Konsentrasi tipikal dari mono terpene di udara di hutan kayu adalah 1 sampai 10 g/m2 (Filipsson et al., 1998). Limonen dibentuk dari geranyl pyrophosphate dengan proses siklisasi dari neryl carbocation atau senyawa equivalennya.

Limonen adalah hidrokarbon cair tak berwarna yang diklasifikasikan sebagai terpena siklik. D-Isomer yang lebih umum mempunyai aroma seperti jeruk dan sering digunakan dalam sintesis kimiawi sebagai prekursor salah satu turunan terpenoid (carvone) dan sebagai pelarut produk-produk pembersih.

Struktur kimia Limonene

 

Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan yaitu kulit jeruk diangin-anginkan terlebih dahulu. Kulit jeruk yang digunakan sebaiknya kulit jeruk yang tipis. Lalu dipotong atau diiris kecil-kecil lalu diangin-anginkan minimal 1 malam. Pengirisan kulit jeruk menjadi tipis-tipis bertujuan untuk memperluas permukaan bidang sentuh dengan uap air yang dialirkan, sehingga uap air tersebut akan lebih banyak mengalir dan masuk kedalam pori-pori kulit jeruk. Sedangkan, tujuan diangin-anginkan adalah agar kandungan air didalam kulit jeruk berkurang.Jadi pada proses ini bertujuanuntuk mengurangi kadar air pada kulit jeruk dan memudahkan proses penghalusan/blender.

Selanjutnya adalah proses penghalusan menggunakan blender. Proses ini bertujuan untuk mempermudah proses pemerasan hasil penghalusan kulit jeruk manis.Dan juga agar kandungan dalam kulit dapat keluar secara maksimal pula.

Selanjutnya ialah proses pemerasan secara manual. Dalam proses ini pemerasan bertujuan untuk mendapatkan hasil filtrat yang baik dan serta kandungan yang ada dalam kulit keluar secara maksimal.

Setelah itu proses pemisahan campuran. Tujuan proses ini adalah pemisahan fraksi  yaitu. filtrat dimasukkan ke dalam botol dekantasi (pemisah fraksi air dan minyak emulsi).

Terakhir masak/panaskan endapan fraksi bagian atas.Proses ini pula bertujuan agar mendapatkan mendapatkan minyak dari endapan yang telah diambil dari corong pisah.

Dan dari hasil pengamatan diperoleh bahwa percobaan yang dilakukan tidak menghasilan minyak atau boleh dibilang gagal. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, pertama kulit jeruk diangin anginkan harus dengan waktu 12 jam atau semalaman, kedua kulit yang diblender terlalu halus,ketiga filtrate yang diperas terlalu encer,dan pada saat diamati di corong pisah memang terbentuk 2 lapisan,tapi endapan bagian atas terbentuk secara tak maksimal,sehingga tak bisa dilanjutkan ke proses pemasakan endapan hingga dapat dijadikan minyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A.       KESIMPULAN

1.   Bahwasanya manfaat kulit jeruk dapat menjadi minyak atsiri,tetapi dalam percobaan saya menunjukan bahwa minyak tersebut tidak muncul

2.    Pemanfaatan Kulit jeruk dapat dibuat dengan metode/teknik yang paling sederhana sampai dengan distilasi

3.    Pemanfaatan Kulit jeruk manis memiliki banyak manfaat jika dibuat dalam sediaan minyak

B.        SARAN

1.      Kulit jeruk manis akan lebih menghasilkan minyak jika dengan metode distilasi

2.      Kulit jeruk manis yang dibuat harus yang fresh/segar

                          

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ting, S.V., Citrus Fruits and Their Products; Analysis and Technology, Marcel Dekker, New York, 1986 [2] Meyer, Lilian Hoagland, Food Chemistry, Reinhold Publishing Corporation, Japan, 1960 [3] Winarno, F.G, Kimia Pangan dan Gizi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997 [4] Massiot et.al., 1988; Ryden and Selvendran,1990 [5] Anonim, ”Sifat-sifat Pektin”, http://www.ippa.info/-9k, diakses 22 Desember 2006

http://e-journal.uajy.ac.id/5398/3/2BL01100.pdf

https://devinarisagita.wordpress.com/2012/08/14/isolasi-limonen-dari-kulit-jeruk/

Andarwulan, Nuri, dkk. 2010.  Flavonoid Content and Antioxidant activity of vagatables from Indonesia.  Food Chemistry. 121 : 1231‐1235.    Cushnie, Tim and Andrew J.Lamb. 2005. Antimicrobial Activity of Flavonoids. International Journal of  Antimicro‐bial Agents. 26 : 343‐356.    Fitri, Lupi Enggar. 2005. Aktivitas Antioksidan Zat Aktif  Ekstrak Metanol dan Etil Asetat Rimpang Kunyit  Putih (Cucurma mangga Val). Yogyakarta : FMIPA UNY.    Intekheb, Javed and Mohammad Aslam. 2009. Isolation of Flavonoid frpm The Roots of Citrus sinensis.  Malaysian Journal of Pharmaceutikal Sciences. 1 : 1‐8    Lenny,  Sovi.  Senyawa  Flavanoida,  Fenil  Propanoida,  dan  Alkaloida.  Available  from  URL:  http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1842/1/06003489.pdf (diakses pada tanggal 20  Agustus 2011, pukul 15.36 WIB).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

New Websites of The Office of the Executive for BSCORP 2023

  Introduction Welcome to the new websites of the Office of the Executive for Bach Science Corporation (BSCORP). In this article, we will explore the features and benefits of our newly launched websites, designed to provide an enhanced user experience and streamlined access to important information. Enhanced User Experience Our primary focus in developing the new websites was to ensure an improved user experience for visitors. We have implemented intuitive and user-friendly navigation, allowing users to easily explore different sections and find the information they need. The websites feature modern and visually appealing designs, incorporating clean layouts, attractive graphics, and easy-to-read content. We have taken into consideration user feedback and incorporated design elements that prioritize readability and accessibility, ensuring a pleasant browsing experience for all users. Streamlined Information Access We understand the importance of having easy access to relevant infor...

Comparison of Effectiveness of Cyanobacteria and Algae for Heavy Metals Pollution Removal in Activated Sludge Wastewater Treatment

Comparison of Effectiveness of Cyanobacteria and Algae for Heavy Metals Pollution Removal in Activated Sludge Wastewater Treatment By: Center of Development for Bach Science Corporation Industrial and domestic wastewater often contains high concentrations of heavy metals, which pose significant environmental and health risks. Traditional wastewater treatment processes, such as activated sludge treatment, may not effectively remove heavy metals. However, the use of cyanobacteria and algae in wastewater treatment has shown promise for heavy metal pollution removal. In this article, we will compare the effectiveness of cyanobacteria and algae in the removal of heavy metals in activated sludge wastewater treatment. Table of Contents Introduction Heavy Metals Pollution in Wastewater Cyanobacteria: Nature's Metal Absorbers Algae: Efficient Heavy Metals Biosorbers Comparison of Cyanobacteria and Algae in Heavy Metals Removal Factors Influencing...

Pengumuman Pembukaan Aplikasi Periode 1/2022 (MAY-OCT 2022) [APPLY NOW]

Pengumuman Pembukaan Aplikasi Periode 1/2022 Departemen Penerimaan, Bach Science Corporation PERIODE May – Oct 2022 Nama Departemen/Kantor/Tim Jenis Jabatan Formasi Jabatan Jumlah Kantor Sekretariat Umum dan Kepaniteraan Panitera Pelaksana Panitera  1 Department of Admission Anggota Departemen Tim Penerimaan 1 Tim Audit Data 1 Tim Publikasi 1 Center of Development for Bach Science Corporation (CDBSC) Anggota Pelaksana Kepala Kantor Cabang Departemen Komunikasi 1 Tim Pengembangan Basis Data, Blog dan Departemen/Kantor Anggota Pelaksana Anggota Pelaksana Teknis 1 Department of Author and Writing Anggota Departemen Tim Publikasi Data 1 ...