A.
PEMILIHAN JENIS JERUK
Jeruk yang
pilih dalam percobaan ini adalah Jeruk Manis.Jeruk Manis (Lat.; Citrus x sinensis) merupakan jenis jeruk yang
diduga berasal dari daerah antara Assam, India, Tiongkok selatan atau Asia Tenggara.[1] Pohon jeruk ini memiliki daun berinip, berbau harum,
pada ketiak daun terdapat duri dengan bunga putih kekuning-kuningan dan buah
bulat, pada ujungnya terdapat lekukan-lekukan, rasanya manis, kulit buahnya
sukar dikupas.
Jenis Jeruk ini mudah temui di daerah khususnya kota
Pangkalpinang,dikarenakan banyak dan mudah kita jumpai pedagagng buah buahan
yang terletak disepanjang emperan jalanan pasti ada yang berjulan buah buahan
segar termasuk jeruk manis sendiri.Buah ini juga merupakan salah satu komoditas
pertanian baik secara nasional maupun daerah provinsi Bangka Belitung.Selain
baunya harum jeruk manis juga memiliki warna yang cukup menarik dan meyakinkan
untuk dibuat sebagai minyak dalam percobaan ini.
B. KANDUNGAN
KULIT JERUK MANIS
Berbagai
jenis kandungan dalam jeruk manis ialahvitamin C, minyak
atsiri,pektin,limonene, lonalol, linalil, terpinol, sitronela serta zat antioksidan. Kandungan
isinya adalah Lemonen lebih dari 90%, terdapat pula 5% campuran sitral,
sitronel dan metil ester dari asam antranilat. Kegunaannya untuk bahan pewangi
dan obat bronchitis menahun, kadar aldehida (jumlah dihitung sebagai dekanol)
tidak kurang dari 1% dan tidak lebih dari 3%. Kandungan minyak atsirinya (tidak
kurang dari 1% v/b) yang 90 terdiri dari limonen. Terdapat pula
glikosida-glikosida, hesperridina, isohesperidina, dan aurantiamarina, serta
damar (Sarwono, 1995).
1. Vitamin
C
Vitamin ini juga
dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C
termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal
bebas ekstraselular. Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah
teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam.Meskipun jeruk dikenal sebagai buah
penghasil vitamin C terbanyak, sebenarnya salah besar, karena lemon memiliki
kandungan vitamin C lebih banyak 47% daripada jeruk.
Vitamin C
diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, yaitu sejenis protein yang
menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan
lain di tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan patah
tulang, memar, pendarahan kecil, dan luka ringan.
Struktur kimia Vitamin
C
2. Minyak
Atsiri
Minyak ini
berupa cairan yang berwarna kuning muda atau coklat kekuningan, baunya khas
aromatis. Minyak atsiri adalah substansi yang
menyebabkan / menimbulkan bau dari macam-macam bagian tanaman.
Dinamakan minyak atsiri oleh karena
substansi ini kalau dibiarkan di udara akan atsiri pada temperatur biasa, maka
ini dinamakan “ volatile oils ” atau “ aethereal oils ”. Istilah terakhir ini
digunakan karena minyak atsiri merupakan “ essences ” atau isi aktif dari
tanaman.
Minyak atsiri,
atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak sensial, minyak
terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang
berwujud kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri mudah menguap karena titik
uapnya rendah. Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi syaraf
manusia (terutama dihidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis
tertentu.
Adapun
sifat-sifat minyak atsiri :
1.
Tersusun oleh bermacam-macam komponen kimia
2.
Memiliki bau khas
3.
Bersifat tidak bisa disabunkan dengan alkali dan tidak bisa berubah menjadi
tengik (rancid) meninggalakan bekas noda pada benda yang ditempel.
4.
Bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik pengaruh oksigen
udara, sinar matahari, dan panas karena terdiri dari berbagai macam komponen
penyusun.
5.
Indeks bias umunya tinggi
6.
Pada umumya tidak dapat bercampur dengan air, tetapi cukup dapat larut sehingga
dapat memberikan baunya kepada air walaupun kelarutannya sangat kecil.
7.
Sangat mudah larut dalam pelarut organik.
Lokasi minyak
atsiri dalam tanaman tergantung pada
suku tanaman tersebut, seperti di dalam rambut kelenjar (pada family Labitae),
didalam sel-sel parenkim (misalnya family
Piperaceae), didalam saluran minyak yang disebut Vittae (family
Umbbbellifearae), didalam rongga-rongga skizogen dan lizigen (pada family
Pinaceae dan Rutaceae), terkandung dalam semua jaringan (pada family
Coniferae), pada bunga mawar kandungan minyak atsiri terpusat pada mahkota
bunga , pada kayu manis ditemui pada kulit batang (korteks), pada family
Umbellifera terbanyak terdapat dalam perikarp buah, pada menthae sp. terdapat
rambut kelenjar batang serta pada jeruk terdapat dalam kulit buah dan helai
daun (Rahim dkk, 2007).
Minyak atsiri
buah sitrus terdapat dalam
kantung-kantung minyak berbentuk oval, balon, dalam kelenjar atau gelembung dengan ukuran
diameter bervariasi dari 0,4-0,6 mm. Kantung minyak tersebut tidak memiliki
saluran dan tidak berhubungan dengan sel sekitarnya atau dengan dinding luar
sel, tidak memiliki dinding tetapi dibatasi oleh runtuhan jaringan yang
terdegrasi. Kantung atau kelenjar minyak ini terdistribusi secara tidak teratur
pada bagian luar kulit buah yang telah masak serta berwarna (flavedo , dan
terutama terletak dibagian luar epikarp dan hipoderm, dan diatas mesokarp
bagian dalam, yaitu dibagian kulit yang sedikit berwarna (albedo). Albedo ini
terdiri dari selulosa, hemiselulosa, lignin, pektin, pentosan, gula, glikosida,
zat yang mempunyai rasa pahit, dan mineral. Jeruk manis, lemon dan tangerin mengandung
senyawa glikosida yang disebut hesperidin; sedangkan jenis glikosida dalam
grapefruit disebut nariginin.Pada proses pematangan buah, sel-sel albedo
tersebut berubah menjadi lebih panjang dan bercabang, serta membentuk jaringan
sel yang rumit, ruang antar sel cukup besar, sehingga kulit buah yang matang
memiliki tekstur seperti karet busa (spongi).
Lapisan spongi
ini memengang peranan penting dalam pengepresan minyak yang keluar dari kantung
minyak, sehingga menimbulkan berbagai kesulitan dalam pengepresan.
Minyak atsiri atau minyak esensial adalah jenis
minyak berasal dari bahan nabati yang mudah menguap tanpa mengalami penguraian
dan memiliki bau khas. Minyak atsiri tidak berwarna, tetapi dapat berubah
menjadi gelap karena proses oksidasi dan pendamaran. Kemampuan daya tahan
minyak atsiri cukup lama namun akan teroksidasi menjadi resin apabila terpapar
cahaya dan udara. Minyak atsiri dapat disuling dari sumber alami tumbuhan karena
tidak disusun oleh ester gliserol asam lemak (Astuthi dkk., 2012).
Minyak atsiri hampir ditemukan di seluruh bagian
tumbuhan.Minyak ini dibentuk di Oil cells. Ada 2 tipe Oil cells yaitu
Superficial cells dan Cells embedded in plant tissue. Lokasi Superficial cells
dilapisan permukaan misalnya kelenjar rambut, sedangkan Cells embedded in plant
tissue terletak di Intercellular space (Buchbauer, 2010).
Aroma tumbuhan bergantung pada komposisi dan susunan
senyawa kimia minyak atsiri. Minyak atsiri terdiri dari campuran senyawa kimia
yang rumit. Hampir tiap jenis senyawa organik dapat ditemukan di dalamnya
(hydrocarbon, alkohol, keton, aldehid, eter, esterdan lainnya). Hanya sedikit
yang mempunyai komponen tunggal (Buchbauer, 2010).
Minyak
atsiri terdiri dari campuran unsur Karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O).
Kandungan kimia minyak atsiri terbagi dalam dua golongan besar yaitu:
a) Terpenoidhydrocarbon, terbentuk dari unsur Karbon
(C) dan Hidrogen (H) melalui biosintesis asetat mevalonat.
b) Senyawa aromatis, terdiri dari unsur Karbon (C),
Hidrogen (H) dan Oksigen (O) melalui biosintesis sikimat fenil propanoat.
Contoh senyawa ini adalah alcohol, keton, ester, eter, dan fenol (Ketaren,
2005).
Bahan utama minyak atsiri adalah terpenoid yang
terdapat pada fraksi atsiri tersuling uap. Zat ini menyebabkan bau khas
tumbuhan (Ketaren, 2005).
Senyawa terpenoid memiliki aktifitas repellent ampuh
dengan penggunaan monoterpen, yaitu alpha pinen, cineol, eugenol, limonene,
terpinolen, citronellol, citronellal, champor, dan timol (Nerio and Stashenko,
2010). Minyak atsiri yang diisolasi dari tumbuhan dijadikan sebagai repellent
bagi jenis arthropoda haematophagous (Ramirez, 2012).
Senyawa-senyawa kimia minyak atsiri tumbuhan
terbukti mempengaruhi aktivitas lokomotor. Komponen aroma minyak atsiri berinteraksi
cepat dengan sistem syaraf pusat dan langsung merangsang pada sistem olfactory,
kemudian akan menstimulasi syaraf-syaraf otak dibawah keseimbangan korteks
serebral (Buchbauer, 2010).
Aktivitas lokomotor merupakan aktivitas gerak
sebagai akibat adanya perubahan aktivitas listrik yang disebabkan oleh
perubahan permeabilitas membran pascasinaptik dan pelepasan transmitter oleh
neutron prasinaptik pada sistem syaraf pusat (Goodman and Gilman, 2006).
3. PEKTIN
Menurut Rouse
(1977, dalam Fitriana 2003), pektin merupakan senyawa polisakarida kompleks
yang komposisinya bergantung dari sumber dan kondisi yang dipakai dalam cara
isolasinya. Komponen utama dari senyawa pektin adalah asam D-galakturonat
tetapi terdapat D-galaktosa, L-arabinosa dan L-rhamnosa dalam jumlah bervariasi
dan kadang-kadang terdapat gula-gula lain dalam jumlah kecil. Pektin merupakan
senyawa-senyawa unit asam anhidrogalakturonat yang dihubungkan dengan ikatan
α-1,4 glikosidik. Beberapa gugus karboksilnya dapat teresterifikasikan dengan
methanol, beberapa ternetralisasi oleh kation dan lainnya
berupaasam-asambebas.Polimer asam anhidrogalakturonat tersebut merupakan rantai
lurus atau tidak bercabang. Komponen utama dan rantai utama pektin.
Pektin adalah
suatu senyawa heteropolisakarida yang secara umum
terdapat pada dinding sel primer
tanaman, khususnya pada sel-sela selulosa dan hemilulosa. Senyawa pektin
tersebut dapat berfungsi sebagai perekat antara dinding sel yang satu dengan
yang lainnya. Bagian antara dua dinding yang berdekatan tersebut dinamakan
lamella tengah (Winarno,1997). senyawa pectin pada dinding sel tanaman (gambar
4) (IPPA, 2002 dalam Nur Harianti 2006).
Pektin merupakan bahan aditif yang memiliki aplikasi
luas pada industri makanan karena kemampuannya membentuk gel seperti untuk
membuat jelly, selai, desert dan sebagai penghalus tekstur. Selain itu, pektin
juga dapat digunakan dalam bidang bakery fillings, yaitu pada penyiapan buah.
Dalam bidang produksi susu, digunakan pada pengasaman susu dan minuman
berprotein serta yogurt. Pektin dapat juga digunakan dalam bidang produk
kesehatan dan farmasi.
Pektin banyak diolah untuk berbagai macam industri
makanan, farmasi dan obat- obatan. Di Indonesia, belum ada pabrik yang dapat
mengolah pektin. Oleh karena itu Indonesia masih mengimpor pektin dari luar
negeri. Sedangkan kebutuhan pektin di Indonesia semakin meningkat. Hal ini
terbukti dengan semakin meningkatnya nilai impor pektin. Kebutuhan pektin
mengalami kenaikan sebesar 10-15% tiap tahun.
Pektin bisa didapatkan dari berbagai macam kulit jeruk. Pektin bisa
didapatkan dengan cara ekstraksi.
Pektin berasal dari bahasa Yunani “pektos” yang
berarti kental dan keras. Hal ini mencerminkan kemampuan pektin untuk membentuk
gel, yang telah diketahui berabadabad lalu. Senyawa pektin merupakan polimer
dari asam galakturonat, turunan galaktosa yang dihubungkan dengan ikatan
α-1,4-glukosida. Pektin ditemukan dalam buah dan sayur baik dari daging buah
ataupun dari kulit buah. Buahbuahan yang dapat digunakan sebagai sumber pektin
antara lain: apel, jeruk, pisang dan wortel.
Pada umumnya, pektin tidak memiliki struktur yang tepat.
Pektin merupakan koloid yang reversible, yaitu
dapat dilarutkan dalam air, diendapkan, dikeringkan, dan dapat dilarutkan
kembali tanpa merubah sifat fisiknya. Bila ditambahkan air mula–mula akan
terbentuk gumpalan seperti pasta dan kemudian akan larut. Di dalam air, pektin
dapat membentuk larutan kental pada kondisi.ditunjukkan terdapatnya molekul-molekul
gula netral(rhamnose, galaktosa, arabinose dan sedikit gula lain), susunan dari
homogalacturonic acid (“smooth regions”) dan pada strukur cabang yang besar
biasanya disebut “hairy regions”. Dgalacturonic acid residues banyak berbentuk
molekul, di dalam blok dari “smooth regions” dan “hairy regions”. Ketika pektin
diekstraksi, hairy regions akan hancur dan yang tersisa adalah gugus
galacturonic acid dan beberapa unit gula netral.
Pektin tersusun atas protopektin, asam pektinat dan
asam pektat. Protopektin merupakan
senyawasenyawa pektin yang terdapat pada tanaman yang masih muda atau pada
buah–buahan yang belum matang. Protopektin tidak larut dalam air. Namun, jika
dipanaskan dalam air yang mengandung asam, maka protopektin dapat diubah
menjadi pektin dan terdispersi dalam air. Protopektin akan menjadi pektin yang
larut dengan adanya hidrolisis asam, secara enzimatis dan secara fisis oleh
pemanasan. Hasil dari hidrolisis adalah asam pektinat.
Asam pektinat adalah asam poligalakturonat yang
mengandung gugus metil ester. Pektinat yang mengandung metil ester yang cukup
yaitu lebih dari 50% dari seluruh karboksil disebut pektin. Pektin ini
terdispersi dalam air dan dapat membentuk garam yang disebut garam pektinat.
Dalam bentuk garam ini, pektin berfungsi dalam pembuatan jelly dengan keberadaan
gula dan asam. Asam pektat merupakan
senyawa pektin dengan gugus karboksil yang tidak teresterifikasi pada asam
galakturonat. Asam pektat bersifat tidak larut dalam air dan tidak membentuk
gel. Namun, jika membentuk garam, asam pektat disebut pektat dan dapat larut
dalam air. Sifat paling penting dari pektin adalah membentuk jelly apabila
dicampur dengan air dan gula dan dipanaskan dalam keadaan asam. Viskositas pektin
tergantung pada berat molekul pektin,
pH, derajat esterifikasi, yang normalnya sekitar 70%.
Penambahan gula juga akan mempengaruhi
kesetimbangan pektin dan air serta kemantapan molekul-molekul pektin sehingga
pektin akan menggumpal dan membentuk serabut-serabut halus. Serabut serabut
halus tersebut yang selanjutnya dapat menahan cairan. Besarnya kadar pektin
menentukan kepadatan struktur tersebut. Semakin tinggi kadar pektin, semakin
padat struktur tersebut. Kepadatan dari serabut-serabut dalam struktur jelly
dikendalikan oleh keasaman. Kondisi sangat asam akan menghasilkan struktur
jelly yang padat atau bahkan merusak struktur karena adanya hidrolisis pektin.
Kualitas pektin dikatakan tinggi jika mampu membentuk gel yang kuat, yang
didapat dengan semakin tinggi kadar metoksil dan semakin panjangnya rantai
galakturonat.
Struktur
kimia pectin
4. LIMONEN
Kandungan dalam kulit
jeruk lainnya adalah senyawa limonen. sebenarnya merupakan turunan
dari minyak atsiri. Limonen ternyata bisa menjadi bahan untuk membuat material
kemasan yang ramah lingkungan biodegradable/ untuk menggantikan styrofoam. !aat
ini inovasi yang dikembangkan para peneliti adalah memanaatkan limbah kulit jeruk yang kurang didayagunakan yang biasanya hanya dibuat untuk
mainan anak, manisan, atau langsung dibuang sehingga kurang bermanaat dan
kurang mempunyai nilai jual. Kulit jeruk yang mengandung limonene akan diolah
menjadi polimer plastik organik sebagai bahan dasar kemasan produk yang
aman dan mudah terurai.
Limonen
adalah hidrokarbon dan diklasifikasikan dalam terpene siklik. Limonen bisa
diperoleh dari kulit jeruk. Limonen, seperti monoterpene lain, dapat diperoleh
dari pohon tertentu. Limonen dapat didapatkan dari kulit buah jeruk, jintan,
adas, dan seledri. Konsentrasi tipikal dari mono terpene di udara di hutan kayu
adalah 1 sampai 10 g/m2 (Filipsson et al., 1998). Limonen dibentuk dari geranyl
pyrophosphate dengan proses siklisasi dari neryl carbocation atau senyawa
equivalennya.
Limonen
adalah hidrokarbon cair tak berwarna yang diklasifikasikan sebagai terpena
siklik. D-Isomer yang lebih umum mempunyai aroma seperti jeruk dan sering
digunakan dalam sintesis kimiawi sebagai prekursor salah satu turunan terpenoid
(carvone) dan sebagai pelarut produk-produk pembersih.
Struktur kimia Limonene
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan yaitu
kulit jeruk diangin-anginkan terlebih dahulu. Kulit jeruk yang digunakan
sebaiknya kulit jeruk yang tipis. Lalu dipotong atau diiris kecil-kecil lalu
diangin-anginkan minimal 1 malam. Pengirisan kulit jeruk menjadi tipis-tipis
bertujuan untuk memperluas permukaan bidang sentuh dengan uap air yang
dialirkan, sehingga uap air tersebut akan lebih banyak mengalir dan masuk
kedalam pori-pori kulit jeruk. Sedangkan, tujuan diangin-anginkan adalah agar
kandungan air didalam kulit jeruk berkurang.Jadi pada proses ini bertujuanuntuk
mengurangi kadar air pada kulit jeruk dan memudahkan proses penghalusan/blender.
Selanjutnya
adalah proses penghalusan menggunakan blender. Proses ini bertujuan untuk
mempermudah proses pemerasan hasil penghalusan kulit jeruk manis.Dan juga agar
kandungan dalam kulit dapat keluar secara maksimal pula.
Selanjutnya ialah proses pemerasan secara manual. Dalam
proses ini pemerasan bertujuan untuk mendapatkan hasil filtrat yang baik dan
serta kandungan yang ada dalam kulit keluar secara maksimal.
Setelah
itu proses pemisahan campuran. Tujuan proses ini adalah pemisahan fraksi yaitu. filtrat dimasukkan ke dalam botol
dekantasi (pemisah fraksi air dan minyak emulsi).
Terakhir
masak/panaskan endapan fraksi bagian atas.Proses ini pula bertujuan agar
mendapatkan mendapatkan minyak dari endapan yang telah diambil dari corong
pisah.
Dan
dari hasil pengamatan diperoleh bahwa percobaan yang dilakukan tidak
menghasilan minyak atau boleh dibilang gagal. Hal ini terjadi karena beberapa faktor,
pertama kulit jeruk diangin anginkan harus dengan waktu 12 jam atau semalaman, kedua
kulit yang diblender terlalu halus,ketiga filtrate yang diperas terlalu
encer,dan pada saat diamati di corong pisah memang terbentuk 2 lapisan,tapi
endapan bagian atas terbentuk secara tak maksimal,sehingga tak bisa dilanjutkan
ke proses pemasakan endapan hingga dapat dijadikan minyak.
A.
KESIMPULAN
1. Bahwasanya
manfaat kulit jeruk dapat menjadi minyak atsiri,tetapi dalam percobaan saya
menunjukan bahwa minyak tersebut tidak muncul
2. Pemanfaatan Kulit jeruk dapat dibuat dengan
metode/teknik yang paling sederhana sampai dengan distilasi
3. Pemanfaatan Kulit jeruk manis memiliki banyak
manfaat jika dibuat dalam sediaan minyak
B.
SARAN
1.
Kulit jeruk manis akan lebih
menghasilkan minyak jika dengan metode distilasi
2. Kulit
jeruk manis yang dibuat harus yang fresh/segar
DAFTAR PUSTAKA
Ting, S.V., Citrus Fruits and Their Products; Analysis and
Technology, Marcel Dekker, New York, 1986 [2] Meyer, Lilian Hoagland, Food
Chemistry, Reinhold Publishing Corporation, Japan, 1960 [3] Winarno, F.G, Kimia
Pangan dan Gizi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997 [4] Massiot et.al.,
1988; Ryden and Selvendran,1990 [5] Anonim, ”Sifat-sifat Pektin”,
http://www.ippa.info/-9k, diakses 22 Desember 2006
http://e-journal.uajy.ac.id/5398/3/2BL01100.pdf
https://devinarisagita.wordpress.com/2012/08/14/isolasi-limonen-dari-kulit-jeruk/
Andarwulan, Nuri, dkk. 2010.
Flavonoid Content and Antioxidant activity of vagatables from
Indonesia. Food Chemistry. 121 :
1231‐1235. Cushnie, Tim and Andrew J.Lamb. 2005.
Antimicrobial Activity of Flavonoids. International Journal of Antimicro‐bial Agents. 26 : 343‐356. Fitri, Lupi Enggar. 2005. Aktivitas
Antioksidan Zat Aktif Ekstrak Metanol
dan Etil Asetat Rimpang Kunyit Putih
(Cucurma mangga Val). Yogyakarta : FMIPA UNY.
Intekheb, Javed and Mohammad Aslam. 2009. Isolation of Flavonoid frpm
The Roots of Citrus sinensis. Malaysian
Journal of Pharmaceutikal Sciences. 1 : 1‐8
Lenny, Sovi. Senyawa
Flavanoida, Fenil Propanoida,
dan Alkaloida. Available
from URL:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1842/1/06003489.pdf
(diakses pada tanggal 20 Agustus 2011,
pukul 15.36 WIB).



Komentar
Posting Komentar